Jakarta Selatan atau Jaksel seringkali menjadi sumber obrolan yang menarik di masyarakat terutama kalangan muda terkait budaya, orang-orangnya, outfit, makanan, hingga bahasa yang sering digunakan.
Dalam hal ini, bahasa menjadi yang paling sering disorot dan melekat dengan Jaksel karena adanya pencampuran bahasa Inggris-Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Sebut saja kata “which is”, “literally”, hingga “deep talk” yang kerap dicampur dengan bahasa Indonesia.
Sama halnya dengan di daerah lain, bahasa Jaksel tidak hanya menjadi alat komunikasi, tapi juga representasi culture. Alhasil, secara tidak langsung bahasa juga dapat mencerminkan pendidikan, ekonomi, sampai pergaulan anak muda.
Itulah mengapa kemudian muncul terminologi bahasa gaul atau bahasa ala anak Jaksel. Secara sederhana, bahasa gaul ini adalah bahasa yang dipakai sehari-hari oleh kalangan anak muda.
4 Penyebab Bahasa ‘Gaul’ Jaksel Bisa Muncul
1. Wilayah Jaksel Didominasi Usia Produktif
- Menurut data demografis Kota Administrasi Jakarta Selatan, jumlah penduduk tertinggi di sana adalah golongan usia produktif dan usia sekolah.
- Pada rentang usia ini, penduduk cenderung melek teknologi dan masuk pada rata-rata pengguna internet.
- Hal ini menjadi salah satu faktor pendukung, mengapa informasi dari Jaksel mudah menyebar ke berbagai daerah melalui berbagai macam media, terutama media digital.
2. Dikelilingi Instansi Pendidikan Taraf Internasional
- Secara geografis wilayah Jaksel juga banyak dikelilingi oleh Instansi Pendidikan bertaraf Internasional yang mayoritasnya memiliki guru native speakers.
- Hal ini menjadi faktor pendukung yang kuat bagi orang-orang Jaksel sering mencampur kosa kata bahasa Inggris ketika berkomunikasi dengan lawan bicaranya.
3. Faktor Hierarki
Sementara itu, menurut pengamat sosial dan Dosen Universitas Indonesia Devie Rahmawati, fenomena pencampuran Bahasa Inggris dan Indonesia di Jaksel juga didasari oleh beberapa hal hierarkis seperti:
- Menunjukkan status sosial
- Pendidikan
- Kehormatan
4. Banyak Dihuni Kelas Ekonomi Tinggi
- Tidak bisa dipungkiri, wilayah Jaksel yang banyak dihuni oleh kelompok kelas ekonomi tinggi membuat bahasa campuran ini dianggap memiliki status sosial tinggi.
- Meskipun ada faktor hierarkis yang mendorong popularitas, fenomena pencampuran Bahasa ini dinilai bukanlah suatu hal yang buruk.
- Hal ini karena ada sisi positif di mana masyarakat Indonesia mulai ada keberanian untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.
Hal ini juga pernah terjadi di luar negeri di mana keluarga campuran di Amerika Serikat yang memiliki keturunan Spanyol memiliki bahasa yang disebut ‘Spanglish’. (fir)