Insiden kecelakaan beruntun yang melibatkan 17 kendaraan terjadi di Tol Cipularang Km 92 +600 arah Jakarta, pada Senin (11/11/2024) sekitar pukul 15.10 WIB.
Peristiwa ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia, tiga orang mengalami luka berat dan belasan lainnya luka ringan.
Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Pol. Aan Suhanan, mengungkapkan pihaknya menemukan fakta truk yang menyeruduk 17 mobil minibus itu berada di gigi tinggi saat kecelakaan terjadi.
Lebih lanjut Kakorlantas Polri menyatakan, kami ke tempat kejadian perkara (TKP). Di situ, turunan kurang lebih 5 kilometer sampai TKP. Kemudian, didapatkan fakta bahwa untuk posisi persneling ada di gigi 4. Artinya, ini gigi tinggi, sementara di situ (jalan) turunan.
Dalam hasil sementara olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menduga truk tronton yang mengangkut kardus mengalami kesulitan mengendalikan kendaraan di jalan menurun.
Mari kita analisis data kecelakaan di Tol Cipularang KM 92 +600 secara lebih mendalam:
Faktor-faktor Penyebab Kecelakaan:
- Kondisi Jalan dan Cuaca: Jalan Menurun dimana gravitasi akan menarik kendaraan lebih cepat ke bawah, sehingga membutuhkan daya pengereman yang lebih besar.
- Hujan Lebat: Jalan menjadi licin, mengurangi daya cengkeram ban, dan membuat kendaraan sulit dikendalikan.
- Visibilitas Terbatas: Hujan lebat dapat mengurangi jarak pandang pengemudi, sehingga sulit untuk merespons situasi darurat dengan cepat.
- Kondisi Kendaraan: Kegagalan sistem pengereman atau rem blong adalah penyebab utama kecelakaan ini.
Beberapa faktor yang mungkin menyebabkan rem blong adalah:
- Overheating yaitu penggunaan rem secara terus-menerus pada jalan menurun dapat menyebabkan rem menjadi panas berlebih dan kehilangan fungsinya.
- Kerusakan komponen pada kendaraan, terutama kerusakan pada kampas rem, cakram rem, atau sistem hidrolik dapat mengurangi efektivitas pengereman.
- Muatan Berlebih dan berat akan menambah beban kendaraan. Ini membuat kendaraan lebih sulit untuk dihentikan, terutama saat melakukan pengereman mendadak.
- Persneling tinggi pada gigi empat membuat mesin masih memberikan tenaga ke roda, sehingga mempersulit upaya pengereman.
- Kecepatan Tinggi akan meningkatkan energi kinetik kendaraan, sehingga membutuhkan jarak pengereman yang lebih panjang. Pada kondisi jalan licin dan rem yang tidak berfungsi, kendaraan akan sulit dihentikan.
- Sering terjadi kesalahan pada pengemudi. Kemungkinan pengemudi tidak mengantisipasi kondisi jalan yang licin dan tidak mengurangi kecepatan sejak awal.
- Pemeliharaan kendaraan yang kurang. Jika sistem pengereman tidak dirawat dengan baik, risiko rem blong akan meningkat.
Skenario Kecelakaan:
- Truk melaju dengan kecepatan tinggi di jalan menurun yang licin.
- Pengemudi mencoba mengerem, namun rem tidak berfungsi optimal atau bahkan blong.
- Truk kehilangan kendali dan menabrak kendaraan di depannya.
- Tabrakan pertama memicu reaksi beruntun yang melibatkan 17 kendaraan lainnya.
- Pickup terlempar akibat benturan keras hingga meloncati pembatas lajur.
Analisis Tambahan:
- Kondisi Ban yang aus atau tekanan angin yang tidak sesuai juga dapat mengurangi daya cengkeram ban dan berkontribusi terhadap kecelakaan.
- Sistem Rem ABS: Jika truk dilengkapi dengan sistem Anti-lock Brake System (ABS), seharusnya dapat mencegah ban terkunci saat pengereman mendadak. Namun, jika sistem ABS mengalami kerusakan atau tidak berfungsi dengan baik, tidak akan efektif.
- Perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi jalan, apakah ada kerusakan atau ketidakrataan pada permukaan jalan yang dapat mempengaruhi stabilitas kendaraan.
Kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92 +600 ini merupakan kombinasi dari beberapa faktor, termasuk kondisi jalan yang licin, kecepatan tinggi, gagal fungsi pengereman, muatan berlebih, dan kesalahan manusia.
Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, perlu dilakukan upaya peningkatan keselamatan jalan, seperti perbaikan infrastruktur jalan, pengawasan terhadap kondisi kendaraan, dan peningkatan kesadaran pengemudi akan pentingnya keselamatan berkendara. (win).