Inilah surat dari MAS (14) ditujukan kepada ayah dan neneknya yang meninggal dunia dan ibunya yang lolos dari maut, akibat tikamannya beberapa hari lalu.
Berikut isi surat tersebut:
Maafin aku udah nyusahin, dan makasih semuanya
Seperti kalian, aku juga bakal bantu orang banyak
Terima kasih semuanya
Saya sekarang sehat-sehat saja
Jakarta, 6 Desember 2024
“(surat ditujukan untuk) ayah, ibu, nenek dan keluarga,” ucap MAS pada seorang penasehat hukum yang mendampinginya.
Polisi telah melimpahkan berkas kasus anak berinisial MAS (14) yang diduga membunuh ayahnya, APW (40), dan neneknya, RM (69), serta melukai ibunya, AP, ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (Kejari Jaksel).
“Berkas sudah dikirim tadi di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Nurma Dewi, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (6/12/2024).
Nurma menjelaskan bahwa berkas perkara telah dikirimkan pada Kamis 5 Desember 2024. Selanjutnya, berkas tersebut akan diteliti oleh jaksa dan akan dikembalikan kepada polisi jika ditemukan kekurangan.
Hingga saat ini, motif MAS menghabisi nyawa ayah dan neneknya masih belum terungkap. Namun, penyidik menekankan fokus pada tindak pidana yang dilakukan pelaku.
“Ya kalau motif itu perkaranya, kan kita kan kejahatannya kalau polisi mah. Motif itu kan sebenarnya sebab akibat,” ucap Nurma dilansir dari Antara.
Sekian waktu dari peristiwa berdarah itu, ramai dibicarakan orang tentang istilah Jam Koma yang viral di kalangan Gen Z terutama di platform media sosial seperti TikTok dan X (dulu Twitter).
Sebenarnya, apa itu “jam koma”?
Dalam istilah Bahasa Inggris, “jam koma” bisa diasosiasikan dengan waktu ketika kamu mengalami brain fog.
Meskipun tidak dianggap sebagai kondisi medis, “jam koma” merujuk pada keadaan kelelahan kognitif yang ekstrem setelah menjalani rutinitas yang padat, hingga membuat seseorang sulit berkonsentrasi, kehilangan fokus, dan merasa lelah secara fisik dan mental.
Dalam istilah Bahasa Inggris, “jam koma” bisa diasosiasikan dengan waktu ketika kamu mengalami brain fog.
Melansir dari X atau Twitter, terlihat cuitan akun @saya160560 yang mengaku sebagai guru les MAS. Ia memyebut sosok MAS adalah siswa yang pendiam.
“Saya kenal ini anak kalau di kelas saya dia ini pintar, dan agak pendiam,” cuitnya dikutip Rabu (4/12/2024).
Akun tersebut juga sempat memperhatikan sikap MAS yang kerap lesu tanpa semangat belajar.
“Padahal setiap kali saya tanya beliau bisa menjawab dengan baik,” lanjutnya.
Sebagai seorang guru, ia mengaku kerap melihat MAS mengeluh lelah belajar di status WAnya.
MAS bahkan pernah membuat status WA yang menyebut takut dimarahi oleh oranhtuanya karena hasil try out yang keluar.
“Gak lama hasil TO saya bagikan si anak buat snap WhatApp mengeluh karena diomelin. Gak lama saya dapat info kejadian yang diluar dugaan,” ungkap akun tersebut.
Psikolog Veronica Adesla menjelaskan tanda kita sedang mengalami “jam koma” atau brain fog adalah ketika kita mengalami kebingungan, kelelahan, dan kesulitan berpikir jernih, sehingga tugas sehari-hari terasa lebih berat.
“Brain fog membuat aktivitas sehari-hari menjadi sulit,” ujar Veronica kepada Detik.
Menurut Veronica, kondisi ini bisa disebabkan oleh kurang tidur, stres, pola makan yang kurang baik, serta kondisi medis tertentu, seperti diabetes atau gangguan hormon.
Beban kerja berlebih juga disinyalir sebagai salah satu penyebab “jam koma”, menurut Kemnaker, dalam akun Instagram resmi mereka.
Selain itu, sejumlah faktor lainnya juga bisa memicu fenomena ini, termasuk berupaya multitasking, paparan layar digital secara terus-menerus, serta kurangnya asupan nutrisi dan lingkungan yang tidak kondusif.
Jam Koma adalah istilah yang cukup populer belakangan ini, terutama di kalangan Gen Z. Ini merujuk pada kondisi di mana seseorang merasa sangat lelah, tidak bertenaga, dan sulit untuk fokus. Rasanya seperti otak sedang “beku” atau “koma” sementara.
Brain Fog adalah istilah medis yang lebih umum digunakan untuk menggambarkan kondisi serupa. Ini adalah istilah payung yang mencakup berbagai gejala seperti:
- Sulit berkonsentrasi: Susah fokus pada satu tugas.
- Lupa-lupa: Kesulitan mengingat hal-hal sederhana.
- Bingung: Merasa tidak jelas atau disorientasi.
- Lambat berpikir: Proses berpikir terasa lambat dan berat.
Penyebab Jam Koma atau Brain Fog:
- Kurang tidur: Ini adalah penyebab paling umum.
- Stres: Tekanan mental yang berlebihan bisa menyebabkan kelelahan otak.
- Pola makan tidak sehat: Makanan yang tidak bergizi bisa memengaruhi kinerja otak.
- Dehidrasi: Kurang minum air bisa membuat otak sulit berfungsi optimal.
- Penggunaan gadget berlebihan: Terlalu banyak menatap layar bisa menyebabkan kelelahan mata dan otak.
- Kondisi medis tertentu: Beberapa penyakit bisa menyebabkan brain fog sebagai salah satu gejalanya.
Cara Mengatasi:
- Istirahat yang cukup: Pastikan tidur yang berkualitas setiap malam.
- Kelola stres: Lakukan aktivitas yang menenangkan seperti meditasi atau yoga.
- Makan makanan sehat: Perbanyak konsumsi buah, sayur, dan protein.
- Minum air putih yang cukup: Jaga tubuh tetap terhidrasi.
- Berolahraga secara teratur: Aktivitas fisik bisa meningkatkan sirkulasi darah ke otak.
- Batasi penggunaan gadget: Beri waktu istirahat untuk mata dan otak.
Penting untuk diingat: Jika gejala Jam Koma atau Brain Fog terus berlanjut dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. (win)