Pada 25 Maret 2022, negara El Salvador dikejutkan oleh tragedi mengerikan ketika 87 orang ditemukan tewas di tangan geng yang bernama Mara Salvatrucha atau MS-13.
Tragedi ini merupakan respon balas dendam dari geng yang merasa terancam dengan kebijakan pemerintah yang mendukung tindakan anti gangster.
Geng MS-13telah beroperasi lintas negara selama puluhan tahun dan dikenal sebagai salah satu kelompok kriminal yang paling ditakuti.
Pembantaian massal ini terjadi setelah pemerintah mengambil tindakan tegas dengan merebut dua jalur bus yang menjadi sumber pendapatan geng tersebut.
Tindakan Pemimpin Nayib Bukele
Namun di tengah bayang-bayang kebrutalan geng MS-13, muncul sosok pemimpin yang berani mengambil tindakan tegas, yaitu Nayib Bukele.
Nayib Bukele dikenal sebagai pemimpin yang berani mengambil langkah-langkah agresif dalam memberantas kejahatan dan geng.
Dengan kebijakan yang tidak terduga, Bukele tidak hanya menghancurkan geng ini tetapi juga menjatuhkan jaringan kriminal mereka secara keseluruhan.
Keputusan tegas ini menjadi titik balik dalam sejarah El Salvador, memberikan harapan baru untuk masyarakat yang selama ini hidup di bawah ancaman geng.
Sejarah Penindasan di El Salvador
Kisah kelam ini dimulai pada Februari 1980 ketika Uskup Agung Oscar Romero mengirim surat terbuka kepada Presiden Amerika, Jimmy Carter.
Uskup Agung Romero mengingatkan Presiden Carter tentang efek negatif bantuan militer kepada rezim yang menindas rakyat El Salvador.
Peringatan ini datang saat rezim elit Spanyol berkuasa, eksploitasi terhadap sumber daya negara, dan penerapan kekerasan terhadap rakyat umum sedang terjadi.
Tiga minggu setelah surat tersebut, Romero dibunuh, menandai awal dari serangkaian tragedi lebih besar yang melanda negara ini.
Perang Saudara yang Berkepanjangan
Perang saudara di El Salvador telah merenggut sekitar 80.000 nyawa, termasuk tentara dan warga sipil.
Konflik ini dimulai sebagai reaksi terhadap penindasan rezim, dengan pembentukan kelompok-kelompok bersenjata yang membalas setiap serangan.
Terlebih lagi, setelah dukungan internasional mengalami perubahan, konflik berlanjut tanpa ujung dan menjadi semakin brutal.
Meski perang akhirnya berakhir, luka yang ditinggalkannya tak mudah sembuh, dan banyak warga El Salvador terpaksa melarikan diri, sebagian besar menuju Amerika Serikat.
Kekerasan dan Perkembangan MS-13 di El Salvador
MS-13 tumbuh pesat di El Salvador hingga kekerasannya sulit dikendalikan. Geng MS-13 beroperasi dalam berbagai kejahatan kecil seperti perdagangan, pencurian, dan pemerasan.
Kekerasan yang dilakukan oleh MS-13 mengakibatkan El Salvador menjadi salah satu negara dengan tingkat kekerasan terhadap perempuan tertinggi di dunia.
Bahkan, data tahun 2016 menunjukkan bahwa satu dari 5.000 perempuan di El Salvador menjadi korban kekerasan, namun hanya 5% dari kasus-kasus ini yang berhasil diproses hingga pelakunya dihukum.
Identitas Anggota MS-13
Bagi mereka, tato bukan sekadar hiasan, tetapi lambang identitas dan loyalitas kepada geng. Anggota MS-13 dikenal dengan tato yang menghiasi tubuh mereka, termasuk wajah, dengan simbol-simbol geng.
Tato tersebut berfungsi sebagai tanda identitas dan loyalitas kepada geng yang mereka anggap sebagai keluarga baru. Namun, sejak awal 2000-an, anggota MS-13 mulai mengurangi tato yang terlihat untuk menghindari perhatian polisi.
Ekspansi Internasional dan Respon Hukum
Operasi besar-besaran diluncurkan untuk menangkap ratusan anggota MS-13 di Amerika Serikat.
MS-13 tidak hanya menjadi isu di El Salvador tetapi juga memiliki jaringan internasional, bahkan direkrut oleh kartel narkoba di Meksiko.
FBI dan ICE meluncurkan operasi besar-besaran untuk menangkap anggota MS-13, namun hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Tindakan ini tidak melemahkan geng, melainkan memperkuat mereka dan memberi ruang untuk ekspansi lebih lanjut.
Kebijakan Presiden Bukele untuk Menghentikan Kekerasan
Nayib Bukele membawa secercah harapan untuk menghentikan kekerasan di El Salvador.”
Nayib Bukele, yang menjabat sebagai presiden sejak 2019, berusaha untuk mengatasi kekerasan geng di El Salvador dengan mengadopsi kebijakan yang lebih ketat.
Bukele terinspirasi oleh kebijakan awal yang pernah diterapkan oleh presiden sebelumnya seperti kebijakan “Super Mano Dura” yang memberi wewenang kepada militer untuk berpatroli dan menangkap anggota geng.
Meskipun ada tindakan tegas, data menunjukkan bahwa meskipun banyak anggota geng yang ditangkap, tindakan kebrutalan MS-13 tidak berkurang bahkan semakin meningkat.
Pengaruh Undang-Undang Baru di El Salvador
Banyak warga di El Salvador kini melihat El Faro sebagai media yang tidak netral dan kurang bisa dipercaya.
Kepercayaan publik terhadap media El Faro menurun setelah disahkannya undang-undang baru yang mengatur laporan tentang geng kriminal.
Banyak warga memandang media ini sebagai tidak netral, dan ketidakpercayaan ini semakin menguat saat pemerintah mulai membatasi informasi yang terkait dengan kekerasan geng.
Undang-Undang Ketat dan Langkah Darurat Presiden Nayib Bukele
Nayib Bukele mengumumkan keadaan darurat nasional dan meluncurkan operasi besar untuk menanggulangi geng-geng ini.
Situasi semakin mendesak setelah serangkaian pembantaian geng, yang mencakup 87 korban dalam waktu singkat. Merespons kekerasan yang ekstrem ini, presiden Nayib Bukele mengumumkan keadaan darurat dan mengambil langkah-langkah tegas melawan geng dengan menetapkan kebijakan yang sangat ketat.
Strategi Penahanan dan Akibatnya
Sekitar 75.000 orang sudah ditangkap; artinya satu dari 45 orang dewasa di El Salvador kini berada di penjara.
Bukele menerapkan strategi tahanan keras, di mana banyak yang ditangkap tanpa bukti yang kuat. Dalam beberapa bulan pertama, sekitar 33.000 orang ditangkap, yang menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia dan perlakuan buruk di penjara. Namun, tindakan ini berhasil menurunkan tingkat kekerasan geng di beberapa daerah.
Dampak Kebijakan Tindakan Keras
Kini, banyak daerah yang sebelumnya dikuasai geng dilaporkan bebas dari pengaruh mereka.
Kebijakan yang diambil oleh Nayib Bukele tampaknya menunjukkan hasil yang positif, dengan banyak warga merasa lebih aman dan pengaduan pemerasan dari geng menurun drastis.
Ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam kondisi keamanan masyarakat di El Salvador.
Penjara Besar untuk Anggota Geng
Penjara baru ini bisa menampung hingga 40.000 tahanan.
Pemerintah El Salvador membangun penjara besar untuk menampung anggota geng yang ditangkap.
Dengan kondisi penjara yang sangat minim, Nayib Bukele berupaya agar para tahanan ini tidak bisa lagi terlibat dengan kegiatan kriminal setelah ditangkap. Semoga langkah yang diambil oleh Nayib Bukele bisa menjadi inspirasi dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. (fir)