The Social Dilemma adalah sebuah film dokumenter yang dirilis di Netflix pada tahun 2020 dan disutradarai oleh Jeff Orlowski.

Film ini bukan hanya sekedar tontonan, tetapi sebuah peringatan serius tentang sisi gelap media sosial dan dampaknya terhadap kesehatan mental, sosial, dan bahkan demokrasi kita.

Melalui wawancara dengan mantan eksekutif dan karyawan dari beberapa perusahaan teknologi terbesar di dunia, seperti Facebook, Google, dan Twitter, dokumenter ini mengajak kita untuk melihat bagaimana algoritma media sosial dirancang untuk memanipulasi perilaku pengguna, memperburuk polarisasi masyarakat, dan menimbulkan kecanduan.

Mari kita akan mengupas latar belakang produser dan tokoh-tokoh penting yang terlibat dalam film ini serta dampak besar yang telah disoroti oleh The Social Dilemma.

Latar Belakang Produser dan Sutradara Jeff Orlowski

Jeff Orlowski, sutradara The Social Dilemma, dikenal sebagai seorang filmmaker dokumenter yang fokus pada isu-isu sosial dan lingkungan. Sebelum film ini, ia dikenal karena film dokumenternya yang berjudul Chasing Ice (2012) dan Chasing Coral (2017), yang menyoroti perubahan iklim dan kerusakan lingkungan laut. Orlowski, melalui film-filmnya, selalu berusaha mengajak audiens untuk lebih sadar akan dampak perbuatan manusia terhadap dunia.

Dengan The Social Dilemma, Orlowski ingin mengungkap bahaya tersembunyi dari media sosial, terutama pada generasi muda, serta menunjukkan bahwa perubahan besar diperlukan di dalam industri teknologi untuk mencegah dampak yang lebih buruk di masa depan.

Tokoh-Tokoh Kunci dalam The Social Dilemma

Dokumenter ini melibatkan sejumlah tokoh kunci yang sebelumnya pernah bekerja di perusahaan teknologi besar. Mereka adalah mantan eksekutif yang memiliki wawasan mendalam tentang sistem dan algoritma media sosial yang dirancang untuk memaksimalkan waktu dan perhatian pengguna.

1. Tristan Harris

Tristan Harris adalah mantan etika desain di Google yang kemudian menjadi co-founder dan presiden dari Center for Humane Technology. Di dalam film ini, ia memberikan wawasan tentang bagaimana media sosial didesain dengan algoritma yang sengaja mendorong kecanduan. Menurut Harris, sistem ini dirancang untuk menarik perhatian pengguna dan memanipulasi mereka demi kepentingan ekonomi perusahaan, bahkan jika itu berarti mengorbankan kesehatan mental pengguna atau menyebabkan masalah sosial.

2. Jaron Lanier

Seorang ilmuwan komputer dan filsuf terkenal, Jaron Lanier dikenal sebagai “bapak realitas virtual” dan juga seorang kritikus vokal terhadap media sosial. Dalam The Social Dilemma, Lanier berbicara tentang bagaimana media sosial secara efektif menciptakan lingkungan di mana pengguna diperlakukan sebagai produk. Lanier telah lama memperingatkan dampak buruk dari media sosial, khususnya dalam hal privasi, serta dampaknya terhadap cara kita berinteraksi dan mempersepsikan dunia.

3. Justin Rosenstein

Rosenstein adalah seorang insinyur perangkat lunak yang membantu mengembangkan fitur “like” di Facebook, yang saat ini menjadi bagian integral dari platform tersebut. Ia menyampaikan penyesalannya karena fitur ini, yang awalnya dimaksudkan untuk menyebarkan kebahagiaan, malah berubah menjadi faktor penyebab kecanduan dan ketidakstabilan emosional pada pengguna, khususnya di kalangan remaja.

4. Roger McNamee

Seorang investor awal Facebook dan mentor bagi Mark Zuckerberg, Roger McNamee juga tampil dalam film ini untuk mengungkap bagaimana media sosial telah berubah jauh dari visi awalnya. Ia menggambarkan bagaimana kekuatan media sosial sekarang digunakan untuk kepentingan politik dan ekonomi yang kadang melampaui batasan etika, hingga membahayakan kestabilan sosial.

5. Shoshana Zuboff

Shoshana Zuboff adalah seorang akademisi dan penulis buku The Age of Surveillance Capitalism. Dalam The Social Dilemma, ia menjelaskan konsep “kapitalisme pengawasan” di mana data pribadi pengguna dikumpulkan dan digunakan oleh perusahaan untuk tujuan komersial. Zuboff menunjukkan bagaimana praktik ini secara fundamental mengubah tatanan sosial dan melanggar hak privasi.

Dampak dan Pesan yang Disampaikan

The Social Dilemma menunjukkan kepada kita bagaimana algoritma media sosial bekerja dalam skala besar untuk mempengaruhi perilaku kita, seringkali tanpa kita sadari. Media sosial dibuat untuk menciptakan “echo chamber” di mana informasi dan opini yang diterima pengguna hanya berasal dari pandangan tertentu, memperburuk polarisasi masyarakat.

Selain itu, film ini juga membahas bagaimana paparan berlebihan terhadap media sosial dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental, terutama pada remaja dan anak muda.

Film ini menekankan pentingnya kesadaran dan edukasi terhadap penggunaan media sosial. Para tokoh dalam The Social Dilemma mengingatkan bahwa setiap kita memiliki tanggung jawab untuk lebih selektif dalam berinteraksi dengan media sosial dan tidak membiarkan platform-platform tersebut mengambil alih pikiran kita.

The Social Dilemma adalah peringatan yang kuat tentang bahaya tersembunyi dari media sosial. Film ini tidak hanya mengungkap sisi kelam teknologi, tetapi juga membuka mata kita tentang perlunya reformasi besar-besaran dalam industri ini.

Dengan pengaruh besar yang dimiliki oleh media sosial, reformasi ini menjadi lebih mendesak untuk mencegah krisis sosial yang lebih besar. Produser dan tokoh-tokoh dalam film ini berharap The Social Dilemma dapat menjadi langkah awal untuk mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi dan menciptakan masa depan yang lebih sehat serta seimbang. (fir)