Salah satu tokoh ekonomi Indonesia yang kontroversial dan legendaris adalah Profesor Dr. Widjojo Nitisastro. Ia dikenal sebagai arsitek utama pembangunan ekonomi Indonesia pada masa Orde Baru dan salah satu anggota utama kelompok yang dikenal sebagai “Mafia Berkeley.”

Widjojo dianggap legendaris karena berhasil merancang strategi yang mengangkat Indonesia dari krisis ekonomi pada 1960-an, tetapi sekaligus kontroversial karena kebijakan-kebijakannya yang dianggap pro-kapitalis dan seringkali menguntungkan kelompok elit serta investor asing.

Berikut adalah beberapa poin kunci tentang teori dan kebijakan yang ia terapkan:

1. Pendekatan Stabilitas Makroekonomi: Widjojo menekankan pentingnya stabilitas ekonomi sebelum pembangunan bisa dilakukan. Bersama timnya, ia memperkenalkan kebijakan pengetatan anggaran untuk menurunkan inflasi, yang sempat mencapai lebih dari 600% di tahun 1965.

2. Teori Pembangunan Bertahap (Gradualism): Ia mengadopsi pendekatan bertahap dalam pembangunan ekonomi, menghindari reformasi yang terlalu drastis. Teorinya ini mengutamakan pertumbuhan yang terukur dan stabil daripada pertumbuhan yang terlalu cepat namun rentan.

3. Kebijakan Terbuka terhadap Investasi Asing: Dalam upaya menarik investasi asing, Widjojo menerapkan kebijakan liberalisasi ekonomi. Hal ini berhasil mengundang banyak modal dari luar, tetapi menuai kritik karena dianggap mengorbankan kepentingan rakyat kecil dan memperbesar ketergantungan pada negara asing.

4. Model Ekonomi Berorientasi Pasar: Widjojo sangat mendukung kebijakan yang mengutamakan efisiensi pasar dan pembentukan harga yang ditentukan oleh mekanisme pasar, bukan oleh negara.

5. Perencanaan Lima Tahun (REPELITA): Ia berperan penting dalam pembentukan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA), yang menjadi landasan pembangunan Indonesia dalam beberapa dekade dan menyatukan semua sektor pembangunan ke dalam rencana yang lebih terpadu.

Meski meninggalkan banyak pengaruh positif, kebijakan-kebijakan Widjojo kerap dikritik karena tidak langsung menyentuh rakyat kecil. Pandangannya tentang pentingnya investasi asing dan penekanan pada stabilitas makroekonomi masih menjadi perdebatan dalam dunia ekonomi Indonesia hingga kini. (fir)